jazz up my life

           
 

05 October 2008

RECTOVERSO (THE BOOK)





"Pada mulanya" hingga "yang ketiga" udah gue ceritain di posting gue tentang RECTOVERSO (THE ALBUM).


.....................

Yang keempat, baru kemaren beli buku RECTOVERSO. Harga bukunya sama plek ama harga CD albumnya, sama-sama 55 ribu.

Bukunya mewah, kertasnya tebal, covernya hard (nggak ada yang soft). Kalau dilihat-lihat berasa diary gue sendiri ajah andai gue yang nulis itu huehehe, sayang yang nulis bukan gue.

Gue membayangkan kalau gambar yang ada di dalam buku agak dikurangi, mungkin bisa lebih murah tanpa mengurangi kontinuitas cerita dengan gambar yang menyertainya.

Cerita favorit gue adalah "Curhat Buat Sahabat". Kata-kata dalam cerpen pertama dalam buku itu mudah dikunyah, mengalir. Cocok untuk dipilih jadi cerpen pertama. Lucunya, dalam cerpen ini yang disebut "aku" adalah cowo ya? Jadi di buku ini, walau Dee adalah cewe, yang jadi "aku" belum tentu cewe melulu loh. Hehe.

Cerpen kedua, "Malaikat Juga Tahu", agak mulai tak mudah dikunyah. Yang jadi "aku" di cerita itu adalah pihak ketiga. Gue nggak bisa membacanya secepat "Curhat Buat Sahabat". Untuk memahami bagaimana "Bunda" dan "Abang", gue harus membacanya dengan teliti, mengunyahnya dengan lambat. Lucunya, tadinya bayangan gue lagu "Malaikat Juga Tahu" bukan untuk menceritakan hubungan ibu (Bunda) dengan anaknya (Abang) dalam menghadapi kisah cinta si Abang. Intinya, tadinya bayangan gue buku ini seluruh cerpennya akan menceritakan hubungan pria wanita sebagai pengagum atau pun kekasih. Hehe. Ternyata nggak juga.

Cepen ketiga sampai kesebelas, suka juga. Tapi jadi iseng pingin berkomentar soal "kontinuitas". Kenapa yang jadi "aku" dalam lagu, belum tentu juga jadi "aku" dalam cerpennya juga ya?
Si "aku" dalam lagu, kadang jadi "kamu" atau "dia" di cerpennya. Kenapa Dee, tak juga diciptakan kontinuitas dalam hal itu?

Buku ini menggunakan font yang berbeda antara cerpen berbahasa Indonesia dengan cerpen berbahasa Inggris. Entah kenapa harus begitu.

Dan lucunya, gambar-gambar yang digunakan dan isi cerita, menggambarkan "kekinian". Tapi halaman-halaman lyric yang berlatar belakang hijau itu tampak seperti "masa lampau" dengan kertas yang berwarna coklat itu dan juga font yang digunakan untuk menulis lyric-nya.

Pendapat gue sih, gue juga berharap kontinuitas dalam hal ini. Kalau memang ceritanya "kekinian", gunakanlah juga font yang "kekinian". Gue lebih suka font yang seolah tulisan tangan itu (nggak tahu apa nama font-nya), digunakan hanya untuk menulis judul lagunya, bukan seluruh lyric-nya. Jadi gue lebih suka cara menulis lyric seperti di buku kecil dalam CD pack.

Dan gue juga sebenarnya berharap warna coklat itu diganti warna yang berbeda-beda, nggak harus coklat semua. Warna coklat itu membuat gue berasosiasi itu kertas lama yang warnanya berubah dari putih jadi coklat karena usia, karena masa yang amat lampau, berbeda dengan isi ceritanya yang sepertinya menggambarkan masa hanya beberapa bulan lalu atau baru saja, tak cukup lama untuk merubah kertas putih jadi coklat.

Entah kenapa, susah gue berasosiasi bahwa kertas itu memang coklat dari sononya. *ndableg*.

O iya, kalo pingin baca resensi buku ini, baca aja blog Julia-Imoet ini.



|
   
My Photo
Name:
Location: Indonesia
Suka Kubaca
Kongkow
Lain-lain
Posting Sebelumnya
 
RECTOVERSO (THE ALBUM)
MEANINGFUL WORDS THAT YOU SENT
SELAMAT IDUL FITRI 1429 H
BASIL VALDEZ - YOU
RICHARD CARPENTER - CALLING YOUR NAME AGAIN
INDRA LESMANA - AKU INGIN
SETELAH BUKBER
MUSIM REUNI
BIGGER THAN MY BODY: A MILIS STORY
KAMARNYA SI NDUK