"Pada mulanya" hingga "yang ketiga" udah gue ceritain di posting gue tentang RECTOVERSO (THE ALBUM).
.....................
Yang keempat, baru kemaren beli buku RECTOVERSO. Harga bukunya sama
plek ama harga CD albumnya, sama-sama 55 ribu.
Bukunya mewah, kertasnya tebal, covernya
hard (nggak ada yang
soft). Kalau dilihat-lihat berasa diary gue sendiri ajah andai gue yang nulis itu huehehe, sayang yang nulis bukan gue.
Gue membayangkan kalau gambar yang ada di dalam buku agak dikurangi, mungkin bisa lebih murah tanpa mengurangi kontinuitas cerita dengan gambar yang menyertainya.
Cerita favorit gue adalah "Curhat Buat Sahabat". Kata-kata dalam cerpen pertama dalam buku itu mudah dikunyah, mengalir. Cocok untuk dipilih jadi cerpen pertama. Lucunya, dalam cerpen ini yang disebut "aku" adalah cowo ya? Jadi di buku ini, walau Dee adalah cewe, yang jadi "aku" belum tentu cewe melulu loh. Hehe.
Cerpen kedua, "Malaikat Juga Tahu", agak mulai tak mudah dikunyah. Yang jadi "aku" di cerita itu adalah pihak ketiga. Gue nggak bisa membacanya secepat "Curhat Buat Sahabat". Untuk memahami bagaimana "Bunda" dan "Abang", gue harus membacanya dengan teliti, mengunyahnya dengan lambat. Lucunya, tadinya bayangan gue lagu "Malaikat Juga Tahu" bukan untuk menceritakan hubungan ibu (Bunda) dengan anaknya (Abang) dalam menghadapi kisah cinta si Abang. Intinya, tadinya bayangan gue buku ini seluruh cerpennya akan menceritakan hubungan pria wanita sebagai pengagum atau pun kekasih. Hehe. Ternyata nggak juga.
Cepen ketiga sampai kesebelas, suka juga. Tapi jadi iseng pingin berkomentar soal "kontinuitas". Kenapa yang jadi "aku" dalam lagu, belum tentu juga jadi "aku" dalam cerpennya juga ya?
Si "aku" dalam lagu, kadang jadi "kamu" atau "dia" di cerpennya. Kenapa Dee, tak juga diciptakan kontinuitas dalam hal itu?
Buku ini menggunakan
font yang berbeda antara cerpen berbahasa Indonesia dengan cerpen berbahasa Inggris. Entah kenapa harus begitu.
Dan lucunya, gambar-gambar yang digunakan dan isi cerita, menggambarkan "kekinian". Tapi halaman-halaman
lyric yang berlatar belakang hijau itu tampak seperti "masa lampau" dengan kertas yang berwarna coklat itu dan juga
font yang digunakan untuk menulis
lyric-nya.
Pendapat gue sih, gue juga berharap kontinuitas dalam hal ini. Kalau memang ceritanya "kekinian", gunakanlah juga
font yang "kekinian". Gue lebih suka
font yang seolah tulisan tangan itu (nggak tahu apa nama
font-nya), digunakan hanya untuk menulis judul lagunya, bukan seluruh
lyric-nya. Jadi gue lebih suka cara menulis
lyric seperti di buku kecil dalam CD
pack.
Dan gue juga sebenarnya berharap warna coklat itu diganti warna yang berbeda-beda, nggak harus coklat semua. Warna coklat itu membuat gue berasosiasi itu kertas lama yang warnanya berubah dari putih jadi coklat karena usia, karena masa yang amat lampau, berbeda dengan isi ceritanya yang sepertinya menggambarkan masa hanya beberapa bulan lalu atau baru saja, tak cukup lama untuk merubah kertas putih jadi coklat.
Entah kenapa, susah gue berasosiasi bahwa kertas itu memang coklat dari sononya. *ndableg*.
O iya, kalo pingin baca resensi buku ini, baca aja blog
Julia-Imoet ini.
# diposting oleh lind :
3:21 PM